Petikan berita ini sungguh meresahkan kami di pulau lae-lae :
——————————————————————————–
Selasa, 14-10-2008 | 21:41:22
Idris Terobsesi Sulap Lae-lae jadi Restoran
Laporan: Muhammad Irham. la_toge_langi@yahoo.com
Makassar, Tribun – Kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar, Idris Manggabarani-Adil Patu malam ini mengikuti talk show bertema Peranan dan Pemberdayaan Wanita dalam Politik di Kompleks Metro Makassar Residence, Jl Landak, Makassar.
Tampil sebagai nara sumber adalah Sri Endang Wahyuni dan Ahkam Jayadi, serta Idris dan Adil Patu.
Menurut Ahkam, wanita sebenarnya memiliki kemampuan berpolitik dengan baik. Hanya saja, seorang wanita harus senantiasa mengingat posisinya sebagai seorang wanita.
Sementara itu, Idris yang ikut berbicara mengatakan bahwa ia punya obsesi besar mengubah wajah Makassar. “Saya akan menyulap Pulau Lae-lae dan Gusung untuk menjadi sebuah restoran seafood yang diperuntukkan bagi orang-orang lokal dan asing.
Idris meminta pihak perbankan untuk membantunya mewujudkan impian itu. Selain itu, Idris juga mengkiritisi konsep tata ruang Makassar yang sudh terlanjur hancur total. Pajak untuk pemerintah yang biasanya 10 persen, menurut Idris harus diberikan kepada hal-hal lain. (*)
Sabtu, 18-10-2008
Warga Lae-lae Dijadikan Orang Kaya Baru
Sebagai seorang pengusaha, Idris sangat peka melihat sebuah peluang bisnis, termasuk ketika melihat peluang bisnis di Pulau Lae-lae, Makassar. Jika terpilih sebagai wali kota, Idris ingin menjadikan pulau tersebut sebagai kawasan restoran seafood di Makassar.
Konsepnya, menurut Idris, masyarakat yang ada di kawasan tersebut akan diberdayakan membuat usaha seafood yang murah meriah baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan asing yang berkunjung ke Makassar.
“Ini masalahnya, belum apa-apa saya sudah diisukan yang tida-tidak. Katanya saya akan menggusur warga di sana. Padahal, justeru saya akan mensejahterakan mereka. Saya akan membuat mereka menjadi orang kaya baru,” kata Idris, Jumat (17/10).
Menurut pemilik Restoran Smile Plasa di Jl Mochtar Luthfi, Makassar ini, jika warga Pulau Lae- lae diberdayakan dengan cara diberi modal dan pengetahuan tentang pengolahan seafood yang standar, maka tidak menutup kemungkinan kawasan itu akan menjadi maju dan terkenal.
——————————————————————————–
Ini seperti kembali membangkitkan mimpi buruk warga yang pernah hampir tergusur untuk maksud yang hampir sama yaitu terdapat pihak yang sangat terobsesi melihat pulau kami menjadi pulau wisata dengan segala fasilitas di dalamnya. Tentu dengan merelokasi warga ke suatu tempat.
Mungkin memang pulau ini sangat potensial untuk bisnis Restoran atau semacamnya. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah warga yang bermukim di pulau ini. Mereka adalah sekumpulan komunitas dari berbagai etnis yang hidupnya sangat melekat dengan laut. Bisa dikatakan merelokasi mereka ke suatu tempat akan mencerabut identitas mereka dari kehidupan laut yang artinya mematikan kehidupan itu sendiri.
Beberapa tahun yang lalu, warga sempat akan direlokasi ke Kampung nelayan buatan di kawasan Salodong. disebabkan adanya investor yang akan membeli pulau ini. Mayoritas warga menyatakan menolak pindah. meskipun terdapat beberapa warga yang sudah terlanjur menerima ganti rugi yang saat itu sangat tidak setimpal. Permasalahannya bukan pada besar tidaknya ganti rugi itu. Tetapi lebih kepada ketidakmauan warga menjual kehidupan mereka. Jika mereka harus pergi dari pulau ini, berarti terhapus semualah segala kenangan kehidupan yang telah diwariskan para leluhur kepada mereka.
****
Yang pasti pulau ini bukannya dihuni pada beberapa tahun lalu. Pulau ini memiliki sejarah yang seumuran sejarah kota. Menurut para orang tua, pulau ini sudah dihuni sejak zaman Belanda. Tepatnya orang belanda pernah bermukim dan menjadikan pulau ini tempat tetirah (resort). Tetapi warga/pribumi tetap dibiarkan hidup berdampingan dan menjadi pekerja baik sebagai pelayan maupun sebagai juru bahasa. Penduduk pribumi bukan hanya etnik makassar yang sebagian besar bersal dari Galesong, tetapi terdapat pula yang beretnik Bugis, Mandar,Toraja, Jawa, bahkan China. Oleh Belanda pulalah sehingga pulau ini terang benderang dimalam hari oleh penerangan listrik yang dialirkan dari gardu listrik milik pemerintah belanda di benteng rotterdam. Sisa-sisa material kabel tembaga sebesar kepalan tangan yang digunakan mengalirkan listrik sering dimanfaatkan warga untuk jadi pemberat Jala. Oleh belanda dibuatkan pula bunker-bunker penyimpanan air tawar, disamping sebuah sumur besar sumber air tawar pulau yang sampai saat ini masih dimanfaatkan warga. Tepat sebelum Jepang mendarat di Makassar, Belanda meninggalkan pulau ini dan menitipkan rintjik pulau kepada beberapa warga yang dipercaya.
Sementara pada Zaman Jepang, melanjutkan Belanda, pulau ini dijadikan pula tempat peristirahatan disamping sebagai tempat pengintaian. Beberapa fasilitas militer dibangun yang identik dengan bangsa jepang, seperti Gua persembunyian. Gua dengan dinding yang kokoh dan mempunyai jalur misterius yang bisa menghubungkan berbagai titik di pulau. Gua ini masih ada tetapi sudah tidak terawat lagi.
****
Dari tinjauan bisnis, jika harus menghilangkan semua kekhasan kehidupan di Pulau Lae-lae hanya untuk sebuah obsesi bisnis yang belum tentu bisa dijual / kembali modal adalah naif. Bukan apa-apa, sebab ada beberapa masa lautan di sekitar pulau ini akan bergolak keras sehingga akan menciutkan nyali pengunjung kalau hanya sekedar ingin menikmati seafood. Akan ada masa pengunjung akan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali disebabkan ombak yang besar. Sehingga ada masa Bisnis yang diharapkan tidak akan menghasilkan apa-apa.
Kondisi alamlah yang akan menjadi ancaman serius baik buat penduduk lokal pun buat bisnis yang diobsesikan…Hmmm bukannya menakuti, tetapi kenyataanya ombak diluar emang lumayan besar untuk sekedar menggerus garis pantai. Untung saja ada Pulau Lae-lae dan Gusung yang selalu membentengi makassar dari gejolak ombak besar, maka bukan tak mungkin garis pantai losari sekarang akan mundur sampai jalan Lamaddukelleng sekarang. Sebab sekeras-kerasnya ombak yang menghantam bibir pantai makassar, pastilah masih lebih keras ombak yang telah dijinakkan oleh Lae-lae dan Gusung.
****
Yang dibutuhkan masyarakat lae-lae sekarang adalah pengakuan dan pemberdayaan. Pengakuan bahwa mereka adalah bagian integral yang tak terpisahkan dari kota makassar dengan tetap mencirikan kekhasan lokal. Bukan hanya objek yang jika terendus penciuman bisnis, maka segera menjadi mimpi buruk warga akan ancaman tercerai berai terpisah dari tanah tempat lahir. Pulau ini butuh pemberdayaan, agar warga secara mandiri mampu mensejahterakan dan memajukan kualitas kehidupan mereka. Yang pasti warga pulau menunggu, mungkin dari walikota yang terpilih nanti. Semoga.


