Gelap merayap Kala malam tiba di pulau kami
“Tenapa kodong na rinra lampu a..”
(aduhai, belum menyala lampunya)
“kamma tongmi pulau hantu anne pulauta”
(Pulau ini sepertinya menjadi pulau hantu)
“tena tong na kana-kana anjo PLN ka punna erokki tappu”
(tidak bilang-bilang juga orang PLNnya kalau mau mati lampu)
“Punna Pambayarang, tena mmari akkiyok-kiyok, kamma tong jangang”
(kalau pembayaran, tidak berhenti mengomel..)
*******
Sudah seminggu pulau kami “Pulau lae-lae” mengalami BLACKOUT total. Secara kehidupan sudah pasti langsung melemahkan keceriaan malam di pulau kami, nyaris seluruh sudut pulau gelap, kecuali beberapa rumah yang memilik genset sendiri, pun jika sanggup untuk membiayai bahan bakarnya.
Otomatis, walau tak sepanas setrika otomatis, hati kami panas. Setiap kali kami tak bisa membayar tepat waktu, setiap saat kami harus siap-siap menerima ocehan dan “ancaman” pemutusan hubungan listrik. Sementara kala Genset PLN rusak dan secara senyap membunuh malam-malam kami, tak ada suara permintaan maaf dari PLN,atau setidaknya sebuah pengumuman yang lebih menghargai warga sebagai pemakai listrik. Alhasil, kala BLACKOUT itu datang hampir pasti kami harus kalang kabut mencari lilin, memperbaiki genset, membersihkan lampu “semprong” sambil tentunya mengomel tak ada ujung mengutuk kegelapan.
Yang saya heran, masalah yang timbul sepertinya itu-itu saja. ” Alatnya rusak” kata petugas PLN yang kalau saya bilang lebih mirip debt colector yang sok kuasa. “harus dibelikang di surabaya alatnya” kata dia esok harinya. “Haruspi seminggu dipesang di surabaya” kata dia esoknya lagi. Hhhhhh…Geram hati ini, sebab dari sejarah-sejarah matinya genset PLN, selalu saja alasan-alasan yang itu-itu saja, kesimpulan saya sepertinya PLN mencari-cari alasan untuk menutupi kebobrokan orangnya dan mesinnya yang memang sudah lebih rongsok jika dibanding dengan genset yang layak. hhhhhhh…aku terlau banyak mengutuk.!!!
Kalau mau dipikir [bagi mereka yang harus memikirkan], pulau kami tiadalah seberapa jauh dari daratan Makassar. kalau sekedipan mata bolehlah, kalau sepenggalahan tak salahlah. Lalu kenapa kami tak bisa menikmati listrik senyaman keluarga kami yang tinggal di daratan Makassar. Lalu apa salahnya jika memikirkan kalau mencari solusi menyambung listrik dari daratan makassar ke pulau kami. Tak ada salahnya kan? Pulau Jawa dengan Bali saja bisa kok. Pulau kami tidaklah sejauh jarak antara ujung timur pulau Jawa dengan bibir ujung daratan pulau Bali. Arus antara makassar dengan Lae-lae tidaklah sekeras dan se”maut” arus selat bali. Lalu kenapa tidak dipikirkan.? Toh juga beban puncak di pulau kami barangkali tidak akan sampai 1/2 Mega, paling banter 100 Kilo lah… Lalu kenapa mesti tidak terpikir..?
Dimasa Kolonial saja bisa, kok sekarang tidak? Lalu kenapa sampai diremehkan?
Atau memang PLN ingin melanggengkan penyelewengan orang-orangnya di pulau ini, yang tidak pernah melakukan pencatatan meteran pelanggan? lalu secara acak membuat tagihan sendiri dengan sebuah analogi goblok, pemakaian merata setiap bulan. Atau memang oknum PLN mendapat jatah dari setiap pasang baru yang berbiaya Ssssstttt Rp. 2.000.000,- sampai Rp. 3.000.000,- dengan tanpa melakukan survey instalasi dan tanpa adanya alat catat meter Kwh…ckckckckkckckckc…hebat !!..
Lalu kenapa, setiap ada Pilkada, pulau kami ini selalu menjadi rebutan simpati dari para kandidat. Beberapa waktu yang lalu kami dikunjungi oleh calon si A dan membagikan bantuan dari Bazis kota Makassar. Lalu ada calon si B membuat poster sedang mendengar keluhan orang tua dari lae-lae, yang lucunya orang tua itu nenekku..hehehe…Belum lagi si C yang cukup familiar dengan beberapa warga karena kerap memancing dengan orang lae-lae. masih kami tunggu Si D, si E, siapa saja kandidat yang menganggap kami potensial untuk mendongkrak perolehan suara mereka.
Sejatinya pulau kami ini selalu penting untuk urusan potensi politik.
Ya.. Memang penting untuk urusan kekuasaan, tapi tidaklah terlalu penting untuk urusan pembangunan. Kami hanyalah kampung nelayan yang tak layak dilabeli PENTING. Tak sepenting pembangunan revitalisasi karebosi, pembangunan fly over atau reklamasi pantai losari “yang tidak penting banget”…
Tapi bukankah kami benteng bagi Makasar dari ganasnya terjangan ombak Selat Makassar, Lihatlah Pulau kami, rumah-rumah kami dan kami sendiri berdiri menantang ombak yang akan mencapai daratan makassar. Percayalah ombak setinggi semeteran yang menerjang pantai Losari adalah sisa dari ombak yang lebih ganas yang telah dijinakkan oleh pulau kami. Masihkah kami tidak dianggap penting?
*******
Pukul lima lewat empat puluh lima, sore hari menjelang maghrib, motor kuparkir ditempat penitipan. Sebuah perahu telah siap menyeberang, diujung sana gelap mulai merayap, siluet pulau kami membentang meninggalkan kesan angker. Di atas perahu seorang anak sekolah menggerutu…”Tenapa kodong na rinra lampu a, baru ada PR ku kodong”. Mendekati tepi pulau kami kesan sepi semakin terasa. Gelap ”Sassang” . Lamat-lamat terdengar suara genset pribadi beberapa warga dan Azan maghrib yang berkumandang dari mesjid..Gelap merayap Kala malam tiba di pulau kami. Senyap membunuh keceriaan malam-malam kami di Pulau Lae-lae.
Dikutip dan diadaptasi dari sini
Berbagi
Puisi Pelaut
Sepi sendiri sang pengembara [a.k.a Puisi Pelaut 1.1]
Dalam hening damai cakrawala tak berujung//
Menumbuhkan benih-benih kerinduan//
kepada pantai dan dermaga//
dimana akar dan pucuk pohon rasa memulai//

Biduk terarah menuju cahaya keemasan sang mentari//
mengundang malam, melukiskan guratan senja kemerahan//
pada ujung pantai dan dermaga//
dimana akar dan pucuk pohon melambai//

Dalam kegelapan malam menjelang pagi, dalam dingin yang menusuk kerinduan//
biduk terarah bertuntunkan bintang//
menuntun perahu merapat ke pantai dan dermaga//
mentari membiaskan siluet daratan tempat akar dan pucuk pohon menyambut//

Sang pengembara sudah pulang//
dalam kerinduan yang tak terperikan//
akan pantai dan dermaga//
akan akar dan pucuk pohon yang menunggu..menawarkan kehangatan dalam teduh….
makassar, 24 april 2008
dari blog admin : mysidekicknme.blogdetik.com
Berbagi
STOP PRESS !!! Nelayan Pulau Lae-Lae Ditangkap Di Australia
STOP PRESS !!! Nelayan Pulau Lae-Lae Ditangkap Di Australia.
Sekurang-kurangnya 8 (delapan) Unit Kapal nelayan (Jolloroq) milik nelayan dari pulau Lae-lae Makassar, tertangkap di perairan Australia. Para nelayan yang tertangkap sedang ditahan di penjara Otoritas Australia.
Menurut salah seorang nelayan yang sempat lolos dari penangkapan, bahwa semua kapal yang ditangkap telah dibakar oleh polisi Australia. Masih menurut dia, bahwa dia dilepaskan karena belum sempat melakukan pengambilan teripang. Meski begitu polisi Australia sempat menggeledah dan membongkar kapal mereka serta memberi hukuman kepada seluruh awak kapal dengan menelanjangi mereka.
Sedangkan menurut kesaksian mereka yang tertangkap, bahwa setelah kapal mereka dibakar, mereka kemudian dibawa ke tahanan kepolisian Australia. Mereka akan ditahan selama kurang lebih tiga bulan. Sementara awak kapal yang masih dibawah umur akan dikembalikan secepatnya ke Indonesia. “Kami makan dan minum susu di sini, tidurnya di kamar khusus dengan tempat tidur yang layak untuk dua orang. setidaknya kami merasakan fasilitas seperti di hotel, yang tidak pernah dirasakan di Lae-lae.†Kata mereka menghibur keluarga yang khawatir di Lae-lae.
Sejauh ini belum ada rilis resmi dari Kedubes Indonesia di Australia tentang penangkapan Nelayan-nelayan Indonesia di Australia.
“Mohon berita ini disebarluaskan,untuk mendapat tanggapan dari Pihak yang berwajib di Indonesia”
Berbagi
Antara “Popi” dan “Teti”
Antara “Popi” dan “Teti”

Keceriaan menghiasi wajah-wajah “Anak Pantai” (P2BL). Meski dengan lelah yang masih tersisa dari begadang semalamnya. Kegiatan yang telah dipersiapkan dari beberapa hari sebelumnya, dapat dilaksanakan tanpa ada hambatan. Ya, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAWW yang di Organize oleh “anak pantai” telah dilaksanakan dengan sukses.
Satu hari sebelumnya, para “anak pantai” telah bersibuk ria. Mulai dari membersihkan Mesjid, Menyiapkan perlengkapan, mengecek peralatan, dan memastikan kesiapan panitia.
Hmmm…sepertinya ada dua hal yang selalu menarik para “anak pantai”, mereka selalu berkerubung dan berebutan kalau si dua ini ada…hehehhehe…[apaan sich..? "mode penasaran
" ] …..
>hoooo.. ternyata itu toh… Si Popi dan Si Teti… [siapa sich dia..."mode bingung"..]
>hihihihihihi [mode ngakak/makkala..]..
>Siapa sich … apaann sich .. [mode jengkel..]
Aco.!!! Si Popi itu .. Pohon Pisang …!!!! Nah kalo si Teti itu Telur Ti’no alias telur rebus…
Kalau maulid kan selalu ada itu… Popi buat nyantolin Teti…. makanya selalu diperebutkan…. belum lagi kaddok minyak yang melimpah…hmmm ..[mode pengen makan..] ….

ehh..ada juga phinisinya looo…hehehe….
Oke … selamat kepada anak pantai… terus berkarya, untuk perubahan di pulau lae-lae kita yang tercinta…
Berbagi
Pulau Lae-lae
Pulau Lae-lae itu..
 
……Mengapa dinamakan Lae-Lae, ada ceritanya. Niya’-niya’ bedeng. Rupamayyaji angkana. Teya’ nakke balle-balle. Riyolo-mariyolona. Niya’ biseang reppe’. A’lurang rassi Cina. Ta’rampe ri gusunga. Assitenta iba’leanna. Ujung napattimboiya. Romang-romang pandang bauka. Nasangga ricumo Cinayya. Akkiyo’-kiyo’ lae, lae. Batuanna maeko, maeko. Apaji’ naniyaremmo. Anjo gusunga Lae-Lae. Kammatodong niarentommo. Anjo ujunga ujung pandang. (Tersebutlah konon. Kata sahibul hikayat. Terdahulu dari yang dahulu. Ada perahu pecah. Penuh penumpang Cina. Terdampar di karang berpasir. Bertentang berseberangan. Tanjung tempat bertumbuhnya. Semak-semak pohon pandan. Maka ributlah penumpang Cina. Memanggil-manggil lae, lae. Artinya ke mari, ke mari. Maka dinamakanlah. Karang berpasir itu Lae-Lae. Begitu pula dinamakan. Tanjung itu Ujung Pandang).
Pulau Lae-Lae ikut terekam dalam sastra bahasa Makassar. Orang-orang Makassar yang pelaut (dahulu, sekarang tidak lagi) yang biasa malang melintang melayari samudra Nusantara, bahkan sampai di pesisir timur Madagaskar (juga dahulu kala), jika ingin mencemooh orang yang belum pernah meninggalkan tanah Mangkasara’ diejek dengan ucapan: “Pu’re’ kau, Lae-Lae tannurapi’” (kau ini apa, Lae-Laepun engkau tidak capai). Ada sebuah kelong (syair) Makassar yang menyangkut 4 buah pulau kecil yang tersebar di depan pelabuhan Makassar, bunyinya demikian:
Barrang Lompo, Barrang Ca’di,
Gusung Tallang, Lae-Lae,
Kupammoliki,
Simpung sikamma sallona.
Barrang Lompo, Barrang Ca’di,
Gusung Tallang, Lae-Lae,
Di sana kupendam,
Nostalgia selama ini.
[..potongan tulisan ini dicopy dari sini http://waii-hmna.blogspot.com/1999/01/356-makassar-la-nina-lae-lae.html..]
Berbagi